Keeping Batik Beautiful

Geser ke Bawah untuk Bahasa Indonesia

We all love batik, and we have that one favorite batik piece, but have you really thought about the process that goes into making a batik cloth? I know that for the longest time I didn't.

Once the cloth is selected and beautifully covered in intricately drawn pattern with wax it needs to be dipped in dye. There are two types of dyes that are used.

1. The natural dye. These come from plant sources and have been used for hundreds of years before chemical dyes became popular. It's made from the bark of trees, plants such as indigo, and also from leaves and berries.

Once the fabric is dipped in dye it then needs to be washed. Just like how we are taught to separate our colored clothes from the whites when doing laundry - because the color might still wash off - this is what happens with the batik! The beautifully colored cloths gets washed and like a rainbow waterfall the dye colors the water that eventually runs off into our local rivers. Thankfully in this scenario we used natural dye, so there isn't much harm done to the environment! Phew.

However:

2. The chemical dye. This type of dye contains heavy metals and other chemicals which do not biodegrade. When these dyes are used the rainbow water that's left over isn't as harmless as it looks. Washed into the river, pollution occurs that can destroy the ecosystem of the river (a danger to plants and fish) as well as polluting the ground water (clean water) in the surrounding regions.

Not. Good.

What are we going to do about it?

The answer is to be a conscious consumer! Always try to support naturally dyed batiks, because they do not destroy the environment of the ecosystem. Natural dyes are biodegradable, and when used the results are just every bit as beautiful.

We need more people to be aware of the effect chemically dyed batiks are having on our rivers and water. Help me in sending the right message to the producers: that there is a market for responsible fashion! This in turn will mean more producers of responsible batik, and more clean water for Indonesia.

Know some people that love batik but may not be aware of the effect it can have on our planet? Send this article to them and help us keep batik beautiful.

Menjaga Keindahan Batik

Kita semua suka batik, dan kita pasti punya satu batik favorit dalam koleksi kita, tapi pernahkah kamu memikirkan proses pembuatan kain batik? Saya menyadari bahwa cukup lama saya tidak mengtahuinya.

Setelah kain dipilih dan dengan indah digambar dengan pola yang rumit menggunakan lilin, kemudian dicelupkan ke dalam pewarna. Ada dua jenis pewarna yang digunakan.

  1. Pewarna alami. Berasal dari tanaman dan telah digunakan selama ratusan tahun sebelum pewarna kimia menjadi populer. Terbuat dari kulit pohon, tanaman seperti nila, juga dari daun dan buah beri.

Setelah kain dicelupkan ke dalam pewarna maka kain perlu dicuci. Sama seperti bagaimana kita diajarkan untuk memisahkan pakaian berwarna dan pakaian putih saat mencuci - karena warnanya pasti akan luntur pada saat pencucian - inilah yang terjadi dengan batik! Kain indah yang sudah diwarnai pada saat dicuci maka airnya akan menjadi seperti curahan air pelangi akibat dari pewarna yang nantinya mengalir ke sungai-sungai sekitar kita. Syukurlah dalam skenario ini kita menggunakan pewarna alami, jadi tidak akan menimbulkan kerusakan pada lingkungan! Fiuh.

Selain itu:

2. Pewarna kimia. Jenis pewarna ini mengandung logam berat dan bahan kimia lainnya yang tidak terurai. Bila pewarna ini digunakan, air pewarna yang tersisa terlihat seperti tidak berbahaya. Mengalir ke sungai, menimbulkan polusi yang bisa menghancurkan ekosistem sungai (berbahaya bagi tanaman dan ikan) serta mencemari air tanah (air bersih) di area sekitarnya.

Tidak. Baik.

Apa yang akan kita lakukan?

Jawabannya adalah menjadi konsumen yang sadar diri! Cobalah untuk selalu mendukung batik yang mnggunakan pewarna alami, karena tidak merusak lingkungan ekosistem. Pewarna alami mudah terurai dan bila digunakan hasilnya sama indahnya dengan yang lain.

Kita membutuhkan lebih banyak orang untuk menyadari efek batik yang menggunakan bahan kimia terhadap sungai dan air kita. Bantu saya dalam mengirimkan pesan ini kepada setiap produsen: bahwa sebenarnya ada pasar untuk fashion yang bertanggung jawab! Yang berarti nantinya akan lebih banyak produsen batik yang bertanggung jawab, dan lebih banyak air bersih untuk Indonesia.

Apakah kamu mengenal beberapa orang pencinta batik yang mungkin tidak sadar akan efek yang dimilikinya terhadap planet kita? Kirimkan artikel ini kepada mereka dan bantu kami untuk menjaga keindahan batik.